PSIKOLOGI

Friday, May 25, 2018

Kedudukan Agama dalam psikologi

Kedudukan Agama dalam psikologi 





Agama Bukan merupakan ini perilaku manusia, melainkan merupakan salah satu cara manusia dalam menyesuiakan diri pada lingkungannya atau dalalm istilah psikologi dinamakan coping behavior(Van der Lans 1994), Agama tidak dengan sendirinya menentukan perilaku manusia, tetapi anatara ag ama dan perilaku terdapat hubungan timbal balik yang kuat.sedemikian kuatnya hubungan agama dan perilaku sehingga dianggap sangat penting oleh psikologi. terbukti dengan di bentukanya divisi psikologi agama (Society for the Psychology of Religion and Spirituality)dalam American Psychological Association (APA)(Sexton,1991)

Hasil Positif dalam sarana penyesuaian diri (Coping) agama yaitu :

  • Secara Psikologik memberi makna hidup, memperjelas tujuan hidup, dan memberikan perasaan bahagia karena hidup ini lebih berarti.
  • Secara sosilogik menjamdikan lebih intim, dekat dan akrab dengan keluarga, kelompok dan masyarakat dan karenanya timbul perasaan terlindungi dan saling memiliki.
  • menemukan identitas diri, menemukan kelemahan kelemahan dan kelebihan kelebihan diri dalam usahanya untuk mencapai Tuhan(Pergament & park, 1995)

Hasil Yang negatif adalah depresi, kehilangan keprcayaan diri agresif atau mengembangkan halusinasi atau delusi mengenai agama, seperti yang dinyatakan dalam buku,diagnostik and statistical manual of mental disorder dari American Psychological Association( dalam Pergament & Park,1995)

Jadi dalam Psikologi Agama bukanlah tujuan akhir karena tujuan akhir dari perilaku manusia( dalam  psikologi)adalah penyesuaian diri yang optimal terhadap lingkungannya (baik lingkungannyata, maupun lingkungan norma norma dan nilai nilai ) yang di wujudkan dalam bentuk kesehatan mental yang optimal ( yang ciri cirinya anatara lain adanya perasaan puas bahagia tenang tidak terlalu banyak stres atau konflik konflik batin yang tidak teratasi dan tidak berprilaku destruktif atau agresif, baik yang merugikan dirisendiri atau orang lain. 



Sarwono,sarlito wirawan.psikologi : psikologi kelompok dan psikologi terapan/sarlito wirawan sarwono-cetakan ke 3-jakarta : balai pustaka 2005

Thursday, May 24, 2018

PSIKOLOGI AGAMA

PSIKOLOGI AGAMA 






Agama di Negara indonesia Menempati Urutan yang Tertinggi Dalam Tatanan Nilai - Nilai (Sila Pertama dalam Pancasila Yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa),Karena Agama Hampir Selalu Merupakan acuan utama dalam hampir setiap perilaku, baik individu, maupun kelompok dalam setiap satuan etnik budaya, kelompok dan keluarga.

Begitu tingginya Penempatan Agama Dalam Tata Nilai Masyrakat Indonesia Sehingga Seakan akan segala sesuatu akan di terselesaikan dengan agama  (Indonesia tidak akan Ketularan AIDS Karena Kita adalah Masyarakat Pancasila Yang menjungjung tinggi Agama ) demikan ucapan salah seorang tokoh nasional ketika Aids Menjadi isu di Indonesia Pada Tahun 1980an dan Jika ada suatu hal yang tidak dikehendaki (kriminalitas,pelacur,perkelahian pelajar/tawuran,kenakalan remaja), cepat sekali orang menuding kurangnya iman keagamaan sebagai biang Keladinya.

Contoh Ketidak Konsistenan agama dan perilaku :
  • Peghapusan berbagai lokalisasi (karena di anggap tidak sesuai dengan agama),ternyata tidak menghilangkan pelacuran itu sendiri (bahkan menyuburkan pelacuran terselubung yang sulit di awasi dan di kendalikan)
  • Hampir semua pelaku penipuan dalam penyelenggaraan haji adalah orang orang yang sudah bergelar Haji
  • Pendidikan agama adalah mata pelajaran wajib dalm kurikulum sekolah di indonesia, tetapi korupsi, kolusi,kriminalitas,perselingkuhan,dan sebagainya berjalan terus  sampai sekarang,

 Ada Beberapa penelitian yang menunjukan agama dapat berperan terhadap perilaku :
    • Di swedia, keyakinan dan praktik beragama (kristen)Berkorelasi denga kriminalitas dengan kekerasan, pelanggaran keamanan dan ketertiban masyarakat dan alkoholisme(Petterson,1991)
    • Di Australia,  Pemeluk agama timur (yang mereka namakan paranormal )yang percaya pada kehidupan di akhirat ternayata lebih konservatif, lebih puritan, Anti  hedonisme dan lebih militan punitif (cenderung tegas dalam menjalankan sanksi kepada yang melanggar)(Thalborner)
Jadi di sinih lah di perlukannya psikologi, ilmu yang mempelajari perilaku,jadi hubungan antara agama dan perilaku /psikologi,menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi dalam hubungan antara kedua hal itu dan bagaimanah dalam mengupayakan agar agama dapat menimbulkan perilaku yang positif seperti pelestarian lingkungan, perlingungan hak asasi manusia dan pengurangan kemiskinan dan mencegah perilaku negatif seperti kejatan, kekerasan,peyelewengan(korupsi) dan terorisme. 


Sarwono,sarlito wirawan.Psikologi : psikologi kelompok dan psikologi terapan/Sarlito Wirawan sarwono- cetakan ke 3 -jakarta : balai pustaka 2005
SEJARAH PSIKOLOGI INDONESIA

Dalam pengenalan terhadap psikologi, sangat banyak porsi kita diperkenalkan mengenai sejarah psikologi di dunia. Mulai dari pada jaman yunani kuno, pemikiran filsuf Aristoteles yang mengembangkan filsafat mengenai ilmu jiwa yaitu ilmu yang mempelajari segala hal mengenai gejala kehidupan. Kemudian ilmu jiwa ini menjadi ilmu yang otonom, terlepas dari ilmu filsafat, yang ditandai oleh berdirinya laboratorium psikologi pertama pada tahun 1879 di University of Leipzig, Jerman. Laboratorium ini didirikan oleh Wilhem Wundt (1832-1920), seorang Dokter dari Jerman yang memiliki ketertarikan terhadap riset psikofisik mengenai proses sensori dan atensi. Dengan berdirinya laboratorium ini, merupakan tonggak diakuinya psikologi sebagai salah satu ilmu pengetahuan, sekaligus juga menjadikannya sebagai “Bapak Psikologi” .
Dalam psikologi berkembanglah berbagai aliran dalam psikologi seperti psikoanalisa, behaviorisme, humanistic, gestalt, social learning, dan lainnya. Yang hingga saat ini semakin berkembang dengan psikologi positif, psikologi indegeneous, dan lainnya.
Di Indonesia sendiri, Psikologi mulai berkembang pada tahun 1952. Psikologi di Indonesia diperkenalkan oleh seorang professor psikiater dari Universitas Indonesia yang bernama Slamet Imam Santoso. Di tahun tersebut, Slamet Imam Santoso ditunjuk sebagai ketua Jurusan Psikologi di Universitas Indonesia, sebagai Jurusan Psikologi pertama di Indonesia. Lulusan pertama dari Jurusan Psikologi adalah Bapak Fuad Hassan pada tahun 1958. Pada tahun 1960, Jurusan PSikologi berdiri sendiri sebagai sebuah fakultas dengan Slamet Imam Santoso sebagai dekan pertama, yang kemudian digantikan oleh Bapak Fuad Hassan (Psikologikucom, 2015).
Pada tahun 1961 berdiri Fakultas Psikologi di Universitas Padjajaran, Bandung yang diprakarsai oleh anggota TNI yang juga dikirim ke Belanda dan Jerman untuk mempelajari Psikologi dan kemudian ditempatkan di Angkatan Darat dan Angkatan Udara Bandung. Universitas ketiga yang memiliki jurusan psikologi adalah Universitas Gajah Mada, Jogjakarta. Pada awalnya jurusan psikologi terdapat di dalam Fakultas Pendidikan. Pada tahun 1964, Fakultas pendidikan berdiri sendiri sebagai sebuah institute, namun Jurusan psikologi tetap berada di bawah naungan Universitas Gajah Mada dan kemudian berdiri sebagai Fakultas. Universitas keempat adalah Universitas Airlangga, Surabaya. Di Universitas ini pada awalnya psikologi tergabung dalam Fakultas Ilmu Sosial. Namun pada tahun 1992, menjadi Fakultas Psikologi dengan para staf nya sebagian besar adalah alumni fakultas psikologi Universitas Gajah Mada (Psikologikucom, 2015). Setelah itu, Jurusan dan Fakultas Psikologi semakin banyak bermunculan hingga saat ini.
Pendidikan Psikologi di Indonesia
Pada tingkat strata 1, minimal seorang sarjana harus telah lulus 140 SKS. Selama menjalani perkuliahan, mahasiswa memiliki kebebasan untuk memilih mata kuliah peminatan, antara lain: klinis, pendidikan, industri & organisasi, dan social & komunitas. Sebelumnya, dikenal psikologi perkembangan dan eksperimen. Namun sekarang ini, kedua area tersebut sudah dianggap sebagai salah satu pengetahuan dasar yang harus dimiliki oleh semua lulusan sarjana psikologi.
Pada pendidikan magister profesi, lulusannya telah diakui untuk menyandang gelar strata magister dan sekaligus menyandang gelar profesi psikolog. Dalam masa pendidikannya, para lulusan ini hanya boleh Memilih 1 peminatan saja, antara lain: klinis anak, klinis dewasa, industri & organisasi, pendidikan, dan sosial. Setiap universitas memiliki kebebasan untuk memilih mana peminatan yang hendak dibuka, sesuai dengan visi dan misi dari Fakultas Psikologi dari universitas tersebut.
Organisasi Psikologi di Indonesia
Pendidikan psikologi di Indonesia diatur dan dikontrol oleh departemen pendidikan nasional, sedangkan ijin praktek psikolog diatur dan dikontrol oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan departemen tenaga kerja. Di Indonesia terdapat Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia (AP2TPI) yang merupakan wadah bagi seluruh universitas yang menyelenggarakan pendidikan psikologi di Indonesia untuk dapat merumuskan segala hal yang terkait dengan pendidikan psikologi di Indonesia. Saat ini teradapat 142 Universitas dan Sekolah Tinggi di Indonesia yang tergabung dalam AP2TPI ini (Administrator). AP2TPI menyelenggarakan kolokium psikologi Indonesia secara berkala. Saat ini, untuk akreditasi program studi psikologi mengacu pada Indonesian Qualification Framework (IQF) atau dikenal juga dengan nama Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang dirumuskan dalam Forum kolokium psikologi Indonesia (Administrator).
HIMPSI sebagai wadah perhimpunan profesi psikologi di Indonesia, memiliki misi mengembangkan keilmuan dan profesi psikologi di Indonesia. HIMPSI didirikan pada 11 Juli 1159 dengan nama Ikatan Sarjana Psikologi (ISPsi) (HIMPSI, 2013). Pada tahun 1998, berlangsung Kongres Luar Biasa di Jakarta, ISPsi mengubah namanya menjadi Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Hingga tahun 2013, terdapat berbagai organisasi minat/ asosiasi dalam HIMPSI. Organisasi minat/ asosiasi tersebut antara lain (HIMPSI, 2013):
1. Ikatan Psikologi Klini (IPK)
2. Ikatan Psikologi Sosial (IPS)
3. Ikatan Psikologi Olahraga (IPO)
4. Asosiasi Psikologi Indistri & Organisasi (APIO)
5. Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia (APPI)
6. Asosiasi Psikologi Sekolah Indonesia (APSI)
7. Asosiasi Psikologi Islami (API)
8. Asosiasi Psikologi Kristiani (APK)
9. Asosiasi Psikologi Kesehatan Indonesia (APKI)
10. Asosiasi Psikologi Penerbangan Indonesia
11. Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (APSIFOR)
12. Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI)
Setiap lulusan Fakultas Psikologi baik S1 maupun magister profesi sangat diharapkan untuk dapat bergabung dalam HIMPSI dan asosiasi/ ikatan didalamnya. Keuntungan dari bergabung dalam organisasi ini akan didapatkan baik oleh organisasi maupun anggotanya. Untuk organisasi, semakin memahami kondisi di lapangan dan memiliki akses yang luas untuk dapat menyebarkan informasi kepada semua praktisi sehingga kontrol dan penyebaran informasi dapat dilakukan secara merata. Bagi anggota, akan sangat berguna sebagai jaringan professional yang menunjang profesi dan juga mendapatkan informasi yang selalu up to date.
Oleh: Priscilla Nangoi
Referensi
AnneAhira.com Content Team. (n.d.). Sejarah Psikologi. Retrieved April 25, 2015, from AnneAhira.com: http://www.anneahira.com/sejarah-perkembangan-psikologi.htm
Administrator. (n.d.). Berita. Retrieved April 25, 2015, from AP2TPI: http://ap2tpi.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=70:kolokium-psikologi-indonesia-xx-di-kuta-bali&catid=40:slideshow
Administrator. (n.d.). Profil. Retrieved April 25, 2015, from AP2TPI: http://ap2tpi.or.id/
HIMPSI. (2013, Desember 03). Organisasi. Retrieved April 26, 2015, from HIMPSI: http://himpsi.or.id/index.php/organisasi/sekilas-himpsi
HIMPSI. (2013, Desember 03). Organisasi. Retrieved April 25, 2015, from HIMPSI: http://himpsi.or.id/index.php/organisasi/asosiasi-ikatan
McLeod, S. (2008). Cognitive. Retrieved April 26, 2015, from SimplyPsychology: http://www.simplypsychology.org/wundt.html
Psikologikucom. (2015, Januari 16). Sejarah & Tokoh. Retrieved April 12, 2015, from Psikologiku: http://www.psikologiku.com/sejarah-perkembangan-psikologi-di-indonesia/
Editor by: Berdi Dwijayanto, S.Psi

https://psychology.binus.ac.id/2015/04/29/sejarah-psikologi-indonesia/